Horok-Horok: Makanan Unik Jepara yang Bikin Penasaran

Ilustrasi horok horok Jepara berupa butiran kenyal di atas daun jati

Foodies, Jepara sering pertama kali dikenang sebagai Kota Ukir. Padahal di warung pasar dan meja makan warga, ada kudapan yang sama-sama khas dan jauh lebih jarang dibicarakan di luar pantura: horok horok Jepara, atau yang biasa ditulis horok-horok. Di sejumlah tulisan lokal ejaan lain yang muncul adalah horog-horog – dua sebutan untuk makanan butiran kenyal dari tepung aren yang hampir tidak ditemui di luar Kabupaten Jepara.

Hari ini Mimin mau cerita soal jawaban cepat yang biasanya dicari orang penasaran: terbuat dari apa, dari mana ceritanya, rasanya seperti apa, dimakan dengan apa, dan di mana biasanya dijual. Semua klaim di bawah Mimin kaitkan ke sumber yang bisa dicek. Tidak ada cerita “kemarin Mimin nyoba di warung X” yang tidak terverifikasi.

Horok horok Jepara itu apa?

Menurut PUI Javanologi UNS (27 April 2023), horok-horok adalah kuliner khas Jepara dari tepung aren, berbentuk butiran-butiran kecil, bertekstur kenyal, dan termasuk makanan yang relatif langka di luar daerah asalnya. Liputan6 (3 Februari 2022) menulis bahan yang sama – tepung aren atau sagu – dengan bentuk butiran, tekstur kenyal, warna putih kecokelatan, dan rasa yang cenderung asin.

Singkatnya: ini bukan kue basah modern, bukan pula nasi biasa. Ia lebih dekat ke “karbohidrat butiran” yang kenyal, lalu dipadukan dengan lauk atau sayur.

Cerita sejarah yang membuatnya beda

Javanologi mencatat horok-horok sudah dikonsumsi sekitar tahun 1930 sebagai makanan samping di sejumlah desa Jepara, lalu semakin penting saat pendudukan Jepang pada 1942. Saat itu, menurut tulisan yang sama, masyarakat dilarang mengonsumsi nasi; pelanggaran bisa berujung hukuman, bahkan hukuman mati. Warga kemudian mengandalkan olahan aren/sagu sebagai pengganti.

Liputan6 mengulang kerangka sejarah yang serupa dan menambahkan guyonan lokal: horok-horok pernah disebut sego radio atau nasi radio – sebutan main-main ketika nasi benar-benar sulit. Suara Merdeka (22 Mei 2025) juga menempatkan horok-horok sebagai identitas kuliner Jepara yang terkait masa pendudukan ketika nasi menjadi tabu.

Catatan penting: ini klaim sejarah yang bersumber dari liputan dan lembaga budaya, bukan arsip pengadilan yang Mimin kutip langsung. Makanya paling jujur disampaikan dengan atribusi, bukan sebagai “fakta tunggal tanpa sumber”.

Ilustrasi sajian horok-horok dengan lauk pelengkap khas Jepara
Ilustrasi horok-horok yang biasa dinikmati bersama lauk atau pecel.

Prosesnya lama, hasilnya kenyal

Yang membuat horok-horok unik bukan hanya rasanya, tetapi prosesnya. Liputan6 menyebut pengukusannya bisa memakan waktu berjam-jam. Laporan Betanews dari Desa Menganti, Kecamatan Kedung (20 Juli 2025), bahkan menggambarkan alur yang lebih panjang: pencucian berulang, pengeringan dengan abu dapur, pengukusan bertahap, perendaman air garam, lalu pengukusan lagi hingga mengkilap. Ketua paguyuban setempat menyebut total sekitar 12 tahapan; pengerjaan ideal bisa dua hari.

Di Menganti, kampung itu dijuluki kampung horog-horog. Satu kukusan adonan sekitar 1,5 kg disebut dijual sekitar Rp25.000 (harga yang dilaporkan Juli 2025), biasanya ke pedagang bakso atau pengecer di pasar tradisional Jepara. Angka ini bisa berubah; anggap sebagai potret laporan, bukan daftar harga abadi.

Dimakan dengan apa?

Javanologi menulis horok-horok biasa disajikan dengan lauk pauk dan sayur; ada juga yang memadukannya dengan sate kikil dan pecel. Sumber lain yang sering disebut warga Jepara: bakso, gulai, sate jeroan, atau bahkan divariasikan sebagai minuman/olahan manis di rumah. Intinya, horok-horok jarang “sendirian” – ia lebih sering jadi teman karbohidrat yang menyerap kuah atau bumbu.

Kalau Foodies suka pindang kuah asam pedas dari pantai yang sama, baca juga pindang serani Jepara di situs ini. Horok-horok dan pindang beda dunia, tetapi keduanya menunjukkan betapa Jepara tidak hanya soal ukiran.

Ilustrasi Tugu Tiga Wanita Pejuang di Jepara Kota Ukir
Ilustrasi identitas Kota Ukir Jepara, daerah asal horok-horok.

Di mana mencari horok-horok?

Pola yang konsisten di sejumlah sumber:
– paling mudah di pasar tradisional Jepara, biasanya pagi hingga siang (Javanologi);
– sentra produksi yang sering disebut: Desa Menganti dan sekitar Kecamatan Kedung (Betanews; Detik Food pernah menyinggung Bugel);
– dijual di warung makan atau pedagang bakso/pecel setempat.

Untuk harga eceran per potong, laporan MEPNEWS (2023) pernah menulis kisaran Rp2.000–3.000. Itu data lama; bandingkan dengan harga kukusan 2025 di Menganti di atas, lalu tanyakan langsung ke pedagang saat Anda di lokasi.

Mimin sengaja tidak menaruh nama warung spesifik tanpa alamat dan jam operasional yang baru diverifikasi. Lebih aman datang ke pasar pagi, atau bertanya ke warga setempat “di mana horok-horok/horog-horog masih ada hari ini”.

Ejaan horok-horok dan horog-horog

Di tulisan resmi lembaga dan media, kedua ejaan muncul berdampingan. Javanologi dan Liputan6 memakai horok-horok. Laporan lapangan Betanews dari Menganti lebih sering menulis horog-horog, mengikuti sebutan warga dan nama paguyuban setempat. Untuk pencarian di mesin pencari maupun saat bertanya ke pedagang, memakai keduanya bergantian justru membantu: sebagian hasil pencarian dan spanduk lokal memakai salah satu ejaan saja.

Yang perlu diingat Foodies: perbedaan ejaan ini bukan dua makanan berbeda. Ia variasi tulisan untuk kudapan butiran aren yang sama.

Tips singkat kalau baru pertama kali mencoba

  • Datang pagi atau menjelang siang ke pasar tradisional; stok sering lebih lengkap di jam itu.
  • Tanya dua ejaan sekaligus: horok-horok dan horog-horog.
  • Mulai dengan porsi kecil, lalu padukan dengan pecel, bakso, atau sate kikil supaya tekstur kenyalnya terasa bersama kuah atau bumbu.
  • Jangan heran kalau warnanya putih kecokelatan dan rasanya lebih asin-gurih daripada manis – itu sesuai deskripsi Liputan6 dan Javanologi.
  • Kalau ingin melihat proses produksi, Desa Menganti di Kecamatan Kedung sering disebut sebagai kampung horog-horog, tetapi kunjungan ke rumah produksi sebaiknya diatur, bukan datang tanpa kabar.

Horok-horok memang sederhana penampilannya. Yang membuatnya bertahan adalah kombinasi sejarah pangan, proses panjang, dan kebiasaan pasar yang masih hidup di Jepara.

Kenapa makanan ini bikin penasaran?

Karena ia menyimpan tiga lapisan sekaligus: tekstur kenyal yang tidak mirip nasi, sejarah pangan saat beras sulit, dan geografi yang sangat lokal – hampir hanya Jepara. Di tengah tren kuliner viral yang cepat berganti, horok-horok justru menarik karena tidak berusaha menjadi tren; ia bertahan sebagai kebiasaan pasar dan dapur warga.

Kalau Foodies mampir ke Jepara dan punya waktu pagi di pasar, coba cari horok horok Jepara – butiran kenyal di atas daun jati atau daun pisang itu. Tanya namanya dengan dua ejaan – horok-horok atau horog-horog – supaya pedagang langsung paham. Satu porsi kecil biasanya cukup untuk mengerti kenapa kudapan ini terus dibicarakan sebagai identitas kuliner Kota Ukir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *