Kuah Kental Pas Buat Makan Siang Terakhir Jogja: Kuliner Mie Ayam Bu Tumini Giwangan 2025

Day 4 – Jogja – siang sebelum check-out, saya dan keluarga lagi butuh makan yang cepat tapi tetap bikin kenyang. Situasinya sederhana: anak suka mie, dan saya pengin tempat yang “aman”—nggak ribet, datang-pesan-makan, lalu lanjut beberes. Dari awal saya sudah niat cari mie ayam yang kuahnya berasa, bukan yang “lewat doang.” Di momen seperti ini, pilihan saya jatuh ke Mie Ayam Bu Tumini (Giwangan).

Baca Juga : Gudeg Pawon Janturan: Gudeg Malam yang Beneran “Dimasak di Depan Kamu” Saat Kota Lagi Tidur
Kenapa Saya Mampir di Sini, Padahal Lagi Kejar Waktu? – Mie Ayam Bu Tumini Giwangan
Kalau kamu lagi di area Giwangan atau kebetulan lewat jalur yang ramai, tempat makan yang bisa diandalkan itu emas banget. Saya datang karena satu hal yang paling sering saya dengar dari orang-orang: kuahnya kental. Buat saya, kuah kental itu bukan sekadar “lebih pekat,” tapi biasanya berarti bumbu lebih nempel, aromanya lebih berisi, dan rasa mie ayamnya terasa utuh dari suapan pertama sampai terakhir.
Di Jogja, mie ayam itu ada di banyak titik—termasuk mie ayam Giwangan—tapi yang bikin saya penasaran: apakah ini tipe mie ayam yang cocok buat keluarga (anak senang, orang tua pun masuk), dan apakah prosesnya bisa cepat walau jam makan siang biasanya padat?
Dari Pesan Sampai Mangkuk Datang: Alurnya Gimana? – Mie Ayam Giwangan

Saya datang siang hari, dan ini memang jam yang “rawan antre,” apalagi kalau kamu datang mendekati jam ramai. Di tempat seperti ini, biasanya kuncinya satu: datang dengan ekspektasi realistis. Waktu tunggu saya di rentang 15–30 menit, tergantung kondisi keramaian. Buat saya masih masuk akal, karena durasi total saya di lokasi juga sekitar 30–40 menit—cukup buat pesan, makan, minum, lalu siap lanjut aktivitas.
Yang saya suka, ritmenya jelas: kamu pesan, lalu tinggal tunggu mangkuk-mangkuk keluar bertahap. Kalau kamu datang bareng keluarga, ini membantu banget karena semua bisa tetap santai, anak pun nggak keburu rewel—asal kamu siapin “plan kecil” (misalnya ajak ngobrol dulu atau bagi camilan ringan kalau anak tipe cepat lapar).
Pengalaman Makan: Kuah Kentalnya Beneran Kerasa? – Mie Ayam Yogyakarta
Saat mangkuk datang, yang pertama saya perhatiin justru aroma kuahnya—lebih “berisi” dan terasa mantap. Kuah kental yang saya maksud di sini bukan kuah yang bikin enek, tapi kuah yang bumbunya terasa nempel, dan bikin mie ayamnya punya karakter. Teksturnya cenderung lebih pekat, jadi setiap suapan terasa “ada isinya,” bukan mie dan ayam yang berdiri sendiri.
Untuk mie ayam, saya biasanya menilai dari tiga hal:
- Keseimbangan rasa (asin-manis-gurihnya ketemu)
- Tekstur mie (nggak kelembekan, tetap enak dikunyah)
- Kuah (apakah jadi pelengkap atau justru “pemain utama”)
Di sini, kuahnya jelas punya peran besar. Buat anak, ini tipe mie ayam yang gampang disukai karena rasanya jelas dan tidak bikin bingung. Buat orang dewasa, kuah kentalnya bikin pengalaman makan terasa lebih “nendang” tanpa perlu tambahan macam-macam.
Kalau kamu tim “makan mie ayam wajib pakai kuah,” ini tipe yang bikin kamu otomatis nyeruput. Aftertastenya pun cenderung hangat dan gurih—bukan yang pedas menyerang, tapi lebih ke rasa bumbu yang tinggal di lidah beberapa detik.
Lihat Lokasi : Google Maps
Porsi dan Kenyangnya: Aman Buat Perut Lapar Siang – Kuliner Giwangan
Salah satu hal yang sering ditanya orang saat mau makan mie ayam di tempat populer: “Ini porsinya gimana?” Dari pengalaman saya, tempat seperti ini punya reputasi porsi yang bikin kenyang—dan saya paham kenapa banyak yang menyebut porsi jumbo sebagai daya tarik.
Kalau kamu datang dalam kondisi lapar siang, kamu nggak perlu khawatir pulang masih “nyari snack.” Justru saran saya: kalau kamu tipenya makan ringan, pertimbangkan buat berbagi atau atur porsinya sejak awal. Apalagi kalau kamu datang bareng anak—seringnya anak bilang lapar, tapi setengah mangkuk sudah mulai melipir.
Informasi Praktis yang Kepakai Banget
Biar kamu nggak datang di jam “salah,” ini catatan yang menurut saya paling berguna:
Jam ramai yang perlu kamu antisipasi
- Jam ramai: 12.00–15.00
Kalau kamu bisa datang sedikit sebelum jam 12 atau agak lewat (menjelang jam 15), biasanya lebih nyaman.
Parkirnya gimana?
- Parkir motor/mobil: tepi jalan
Ini berarti kamu perlu lebih sigap: cari spot aman, jangan menghalangi akses, dan kalau bawa mobil lebih baik datang di jam tidak terlalu padat biar nggak muter-muter.
Ini tempat baru atau sudah lama?
- Sudah berdiri sejak: ±1990-an
Saya pakai diksi netral “sekitar” karena memang ini info yang biasanya orang sebut sebagai perkiraan. Tapi poinnya jelas: ini bukan tempat yang muncul kemarin sore—ada ritme dan pelanggan tetap yang membuatnya bertahan.
Ngobrol Singkat dengan Karyawan: Jawaban yang Saya Catat
Saya sempat tanya beberapa hal yang biasanya juga jadi pertanyaan kamu kalau mau makan di tempat yang ramai. Ini rangkuman singkatnya:
- Porsi jumbo: iya, banyak yang memang pilih porsi besar karena “sekali makan beres.” Kalau kamu ragu, tanya opsi porsinya di awal.
- Level manis: bisa terasa manis khas selera Jogja, tapi kamu bisa menyesuaikan (misalnya minta jangan terlalu manis kalau tersedia opsinya).
- Topping favorit: yang paling sering dicari biasanya topping standar mie ayamnya karena menyatu dengan kuah kental.
- Cara antre cepat: datang lebih awal dari jam ramai, pesan begitu sampai, dan kalau rombongan, tentukan pesanan dari awal biar nggak bingung di depan.
Buat saya, bagian ngobrol sebentar ini membantu mengatur ekspektasi: kamu jadi tahu apa yang paling sering dipilih, dan gimana cara lebih “aman” saat kondisi padat.
Komparasi Ringkas: Dibanding Mie Ayam Sekitar Giwangan
Di sekitar Giwangan, kamu bisa ketemu mie ayam dengan gaya yang lebih ringan atau yang menonjol di topping tertentu. Mie Ayam Bu Tumini Giwangan punya ciri yang lebih kuat di kuah kentalnya dan sensasi rasa yang tegas.
Kalau mie ayam lain di sekitar sini ada yang cocok buat kamu yang suka rasa lebih ringan, tempat ini lebih cocok buat kamu yang mencari suapan yang “berisi” dari awal. Saya nggak bilang yang lain kalah—cuma beda tipe. Jadi tinggal sesuaikan dengan mood kamu hari itu: pengin yang ringan atau pengin yang nendang dan bikin kenyang lebih lama.
Baca Juga : Rekomendasi Cafe Borobudur
Tips Kunjungan Biar Kamu Nggak Kena Drama Antre
Ini beberapa tips yang saya pakai dan menurut saya realistis:
1) Datang dengan strategi waktu
Kalau bisa, datang sedikit sebelum 12.00. Alternatifnya, datang mendekati jam 15.00 saat keramaian mulai turun.
2) Siapkan pesanan dari awal (apalagi kalau bawa anak)
Karena waktu tunggu bisa 15–30 menit, anak yang “lapar mendadak” kadang sulit diajak kompromi. Saya biasanya langsung tentukan pesanan begitu sampai, lalu ajak anak ngobrol atau cari posisi duduk yang nyaman.
3) Parkir tepi jalan: pilih yang aman dan cepat
Kalau bawa motor biasanya lebih mudah. Kalau bawa mobil, pertimbangkan datang di jam yang tidak padat supaya tidak buang waktu cari parkir.
4) Buat kamu yang sensitif rasa manis
Karena selera Jogja bisa cenderung manis, kamu bisa tanya sejak awal apakah bisa dibuat lebih sesuai selera kamu. Nggak harus ribet—cukup tanya singkat saja.
5) Cocok buat keluarga? Menurut saya: iya, dengan catatan
Cocok karena mie ayam adalah “menu aman” buat anak. Catatannya: kalau datang di jam ramai, siap dengan waktu tunggu dan pastikan anak nggak keburu cranky.
Jadi Wajib Gak Nih?
Wajib — (kental, murah, nendang).
Kalau kamu lagi cari mie ayam yang kuahnya terasa “niat,” datang siang hari dan siapin waktu tunggu 15–30 menit, tempat ini bisa jadi opsi yang pas—terutama buat kamu yang ingin makan cepat, kenyang, lalu lanjut jalan atau check-out tanpa drama.





